Sabtu, 16 April 2016

Sama

Berada di suatu malam, jam 19.01 suasana nya sangat berbeda sama apa yang aku rasakan satu tahun yang lalu.
Perasaan itu masih sama, hanya berubah sedikit. Aku harap kamu membaca tulisan ku malam hari ini.
Tenang, waktu menulis ini, sudah tidak ada airmata drama yang bercucuran lagi. Seperti katamu waktu itu. Tapi jangan tanyakan akan rasa sedih. Masih. Aku masih menyimpan rasa sedih yang tersisa, entah sampai kapan. Aku harap, suatu saat nanti rasa sedih ini akan terobati dengan sempurna.

"Aku kangen kamu" cuma itu yang bisa aku tulis dalam jendela pesan ku untukmu.
Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti yang kualami berbulan-bulan yang lalu. Rasa gengsi untuk mengungkapkan kangen itu malah semakin membunuhku.
Bunga dari kamu, masih aku simpan, bahkan aku letakkan di samping telefon kamar, agar aku tak pernah lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan dan berikan pelajaran untukku waktu itu.
Masih ingat, malam itu kamu datang membawa bunga, dan aku tak tau apa makna bunga yang kamu bawa itu, sampai akhirnya, sewaktu kamu sudah pulang, kamu mengirim pesan singkat untukku akan bunga itu. Kamu tau? Saat itu aku benar-benar merasa bahagia. Bunga itu masih tumbuh loh sampai sekarang, tak perlu disiram, dan tak perlu diberi pupuk. Bunga itu terlihat makin membesar, dan makin indah, tidak seperti yang kamu berikan waktu itu.
Hanya bunga itu yang selalu aku ajak bicara dikala "aku kangen kamu" dan kamu tidak pernah membalas pesan-pesan ku. Ya, mungkin kamu balas, tapi aku rasa balasan itu tidak tepat untukku.

Bunga itu masih akan aku simpan, walaupun makna yang tergantung pada bunga itu tak bernasib sama pada kisah kita. Banyak yang bilang "Barang dari dia kenapa ga dibuang atau dibakar aja?" Oh tentu tidak, barang dari mu mempunyai seribu makna untukku. Bahkan toples selai cokelat kacang yang kamu berikan untukku, masih ku simpan di lemari dapur. Entah apa yang bisa membuat ku sampai seperti ini. Aku tak pernah merasakan ini sebelum-sebelumnya.

Well, malam ini kamu lagi ngapain? Kamu lagi sama siapa? Yang jelas ku tau, kamu sedang bersenang-senang dengan temanmu dan hobimu. Aku tak pernah mau berpikiran yang macam-macam tentangmu, tetapi banyak hal diluar sana yang tak terduga. Apa kamu pernah membayangkan akan jatuh cinta dengan sahabatmu sendiri? Hati-hati, kamu bisa jatuh cinta dengannya.

Tapi, dengan siapapun nanti hatimu berlabuh kembali, aku harap kamu tak mengulang kesalahan yang pernah kamu lakukan saat kita masih berdua tempo hari yang lalu.
Sekarang, aku disini hanya bisa menerima mu sebagai teman, karena kamu menerima ku sebagai sahabat pun sepertinya tak mampu kamu lakukan, karena pemikiran kita tak sejalan, dan tak bisa disandingkan. Untuk apa aku masih banyak berharap akan rasa yang sama.
Semoga setelah kamu baca ini nanti, kamu bisa mengerti apa yang aku maksud. Untuk saat ini, dan entah empat tahun ke depan atau seterusnya, aku masih membutuhkan kamu, untukku bercerita dan berkeluh kesah mengenai apapun itu. Karena aku cuma bisa menceritakan itu ke kamu.

Jika dipikir, betapa beruntungnya aku pernah bersama kamu, biarpun tidak lama, cukup untukku mengambil makna dari semua itu.
Selamat bermalam-minggu-an, sayang! Aku kangen sama kamu, kapan kita mau kencan lagi?
Aku harap secepatnya ya, tanpa ulat bulu atau sahabat mu yang kutakuti itu.
Salam kangen dari perempuan yang kamu ajak menonton Maliq & d'Essentials di H-2 SBMPTN mu dan perempuan yang kamu berikan Edelweiss waktu itu.

With love, titarahanip.