Rabu, 19 Oktober 2016

Masih Benar

Ada di antara kalian yang suka main feeling dengan orang yang kalian sayang atau ga? Yang feeling nya tepat, dan pasti benar. Like me dengan beberapa orang di sekitar.

Aku masih suka main feeling, ntah sama sahabat atau orang terdekat yang bener-bener udah dekat sama aku (banget). Dan feeling ku ke dia hampir tak pernah meleset. Pernah ku baca beberapa buku dan artikel, itu tandanya "ada keterikatan batin di antara orang itu yang kuat". Tapi, sampai sekarang aku belum temukan jawabnya, apakah yang merasakan sepihak atau kedua belah pihak.

Aku sering menyembunyikan dengan apa yang akan terjadi ke orang-orang di dekat ku, menulis apa yang akan terjadi nantinya di satu buku catatan ku, dan banyak yang kejadian. Entah baik atau buruk. Baik untukku atau tidak. Buruk untukku atau tidak. Tidak mau bertindak layaknya seorang "peramal" yang dapat membaca masa depan. Aku cukup menyimpannya sendiri, dan pada saat yang tepat, aku baru menceritakannya dengan orang-orang yang bisa aku percaya.

Seringkali aku dibilang "negatif thinking banget si jadi orang" apabila aku ceritakan lebih dahulu. Maka dari itu, aku akan ceritakan kisahnya di akhir nanti.
Dalam hati pun tak ingin berpikiran negatif, tapi mau seperti apa lagi, kenyataannya seperti ini.

Kalian yang suka men-judge dengan kalimat diatas; kalian tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya dalam jangka waktu panjang, makanya aku sering dipenuhi ketakutan akan hal-hal yang akan terjadi. Hal itu selalu benar, tak pernah salah. Mengapa masih ada keterikatan batin yang kuat? Sementara aku sudah jauh melangkah dari titik nol diriku sendiri. Aku harap segera menemukan jawabnya.

Dari aku, yang tidak kunjung terlelap malam ini karena memikirkan mu.

With love, titarahanip.

Selasa, 11 Oktober 2016

Sebait Ucapan Cinta

Sedang dikejar deadline tugas kuliah dan harus menempuh Ujian Tengah Semester, padahal lagi batuk ga enak badan, aku mendarat cantik di salah satu kedai kopi. Bego. Udah tau sakit, masih saja keluar malam dan menikmati secangkir kopi.

Tentu, aku tidak akan memesan es dan kawannya, aku hanya memesan secangkir kopi panas, ditemani buku kuliah, laptop, dan salah seorang sahabatku. Terima kasih ya, sudah mau mengantar dan menemani aku untuk mengerjakan tugas-tugasku.
Ada yang berbeda tapi malam ini. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Berkutat dengan tugas-tugas selama sebulan yang lalu sampai saat ini, membuat ku lupa memikirkan satu hal yang kurasa penting untuk ku.

Lupakan saja mengenai hal itu. Aku hanya ingin bersajak cinta, mengirim puisi romantis untuk dia yang saat ini sedang berlalu lalang di pikiran ku. Senang berjumpa denganmu. Oh iya, sedang apa kamu saat ini? Apa kamu juga sibuk? Atau sedang membuka tutup ponsel menunggu pesan dari seseorang yang kamu harapkan? Apa aku juga akan menjadi orang yang kamu harapkan? Oh, ku harap begitu.

Beribu pesan cinta tertulis indah di ponsel ku, satu pun tak berani ku kirim untuk mu. Bahkan sekedar mengirim "hai" saja, jari ini tak sanggup menuliskannya. Inikah yang dinamakan sensasi menjadi "secret admirer" bagi seseorang? Jika aku hanya ditakdirkan begini saja, banyak bersyukur lah aku, yang penting aku bisa melihat mu tertawa bahagia melalui postingan-postingan foto di jendela instagram mu. Dan jika aku di takdirkan untuk bisa lebih mengenalmu, aku tak akan pernah melewatkan sedetik pun waktu untuk bersamamu.

Semoga kamu membaca apa yang aku tulis malam ini, dari aku, yang sedang batuk dan kehabisan suara.

With love, titarahanip.

Senin, 10 Oktober 2016

Jatuh Cinta Lagi?

Pada akhirnya, aku akan jatuh cinta dengan seseorang yang tak terduga. Seseorang yang keberadaannya selalu aku kesampingkan. Padahal dia ada, padahal kami bisa berkabar.

Sayangnya, aku sudah tidak mau berkabar-kabar seperti itu. Aku ingat betul, dia pernah berujar;
Kamu masih bisa makan kan kalo aku ga ingatkan? Kamu masih harus sholat kan tanpa aku suruh? Kalau kamu sakit, kamu bisa ke dokter lalu ke apotek kan tanpa harus ada aku?

Ya, dia mengajarkan aku untuk belajar mandiri, tidak hidup dalam ketergantungan. Aku tidak pernah iri dengan teman ataupun sahabat yang dengan mudahnya bisa berkabar dengan pacar/kecengan masing-masing. Aku sudah terbiasa dengan kirim pesan pagi ini, dibalas besok sore. Aku belajar memahami, belajar bersabar.

Tapi, dengannya aku lupa bagaimana rasanya menangis tersedu-sedu hanya karena pesan singkat tidak dibalas. Merasa bebas, tidak terikat, tapi harus bertanggung jawab.

Mau aku punya pacar sekalipun, dia tak akan marah, tidak. Karena di antara kami, belum terikat status yang resmi. Aku pun tak mau mengejar-ngejar status. Toh buat apa, kalau kami berdua lebih bahagia seperti ini. Tapi buat saat ini, rasanya untuk membuka hati buat yang lain masih cukup sulit. Masih tersimpan rasa-rasa trauma. Masih harus meraba-raba sifat orang.

Yang cover nya baik, belum tentu baik buat ku. Yang cover nya seenaknya sendiri, belum tentu jahat ke aku. Ya, namanya juga hidup, apapun dijalani segimana bahagia nya ya. Tapi, namanya pangeran pujaan hati akan datang dengan sendirinya dan cerita ini akan berakhir dengan bahagia! Aamiin

Btw, semangat bertugas ya. Semoga apa yang kamu kerjakan selalu menjadi berkah dan ibadah buat mu dan orang-orang di sekitar juga. Aamiin

With love, titarahanip.