“Udah jam 5 sore, kenapa ga ada kabar juga. Tolong jangan
PHP-in gua”, kata Riri dalam hati. Rencana nya, nanti habis mahgrib, Riri
bakalan jalan sama temen cowok nya. Ini untuk pertama kali nya. Kemarin, Riri
mendapat pesan singkat dari Ega, temen cowok nya buat ngajakin dia jalan malam
ini. Tapi, sampai jam 5 ini, Ega ga mengkonfirmasi akan ajakan nya pada Riri.
Tak lama kemudian, handphone Riri bergetar, sebuah pesan singkat dari Ega.
Ri, maaf aku baru
ngabarin kamu, nanti kita jadi jalan, ya. Aku jemput kamu jam setengah 7.
Jantung Riri langsung berdegup kencang, ia tak sempat
membalas pesan singkat dari Ega, segera ia mencari pakaian terbaiknya. “Kak,
enaknya gua pake baju yang mana, ya?” tanya Riri pada Silvi, kakak nya. “Elu,
dek. Kaya mau pergi sama Presiden aja, milih baju make acara bingung, udah lah,
lu pake baju casual aja” jawab Silvi. “Dih, kakak ga asik banget! Ini kencan
pertama buat gua, gua gatau musti ngapain aja nanti” jawab Riri kembali sambil
mengobrak-abrik isi lemari. “Nih, lo pake baju ini aja, baju ini pas di badan
lo, ntar rambut lo di gerai aja, jangan di kucir alay” jawab Silvi sambil
memberikan dress pendek berwarna biru tosca. Riri hanya mengangguk sambil
memahami perkataan kakak nya.
Waktu pun terus berjalan, tepat pukul 18.00 Riri sudah
berada di depan meja rias, dia segera berdandan. Ilmu dandan nya pun ia peroleh
dari tutorial make up di youtube. Perlahan, ia mulai memoleskan foundation di
wajahnya, lalu memakai bedak, eyeliner, maskara, serta lipstick warna peach.
“Gimana, kak? Gua udah cantik?” tanya Riri pada Silvi. “Iye, elu udah cantik,
baweeeeell! Sono, gih milih sepatu, tapi jangan make boots, yang ada ntar kaki
lo makin keliatan gede, lo make heels aja, ya” jawab Silvi. Handphone Riri pun
bergetar kembali, Ega mengirimkan pesan singkat.
Ri, aku udah di depan
rumahmu.
Isi pesan singkat itu membuat jantung Riri makin berdegup
kencang. Segera ia berpamitan pada Silvi untuk pergi bersama Ega. Tak lupa ia
berpamitan pada ayah dan ibunya yang sedang menonton tv di ruang tengah. Ayah
dan ibu nya pun heran, Riri yang tiap malam minggu biasanya selalu menghabiskan
waktu di kamar, kini mau pergi keluar rumah. “Kamu tumben dandan cantik sekali,
mau kemana kamu sayang?” tanya mama Riri dengan lembut. “Mau pergi sama temen
kok, Maaaa. Yaudah ah Riri berangkat dulu, temen Riri udah ada diluar, kasian
kalo nunggu lama-lama. Bye mamaaa!” jawab Riri sambil mencium pipi mama nya. Riri
langsung berlari kencang keluar rumah dan membuka pagar. Di luar, Ega sudah
terlihat menunggu Riri di luar Honda Jazz merah nya. “Hai, udah lama nunggu?
Maaf ya, biasa ribet” sapa Riri lebih dulu. “Oh, hai. Enggak kok. Gapapa,
maklum lah namanya juga nunggu cewek. Yuk, kita berangkat” jawab Ega. Riri
hanya mengangguk, lalu masuk menuju mobil Ega, dan mobil itu pun mulai melaju
keluar dari perumahan. “Kita makan malam di restoran deket kampus, yuk. Kata
nya sih disitu makanan nya enak dan suasana nya romantis gitu” kata Ega. Deg!
Rasanya jantung Riri ingin mengeluarkan kembang api, romantis? Riri tak menyangka, Ega akan mengajak nya ke restoran
dekat kampus mereka. Sudah lama Riri membayangkan ingin dinner di restoran itu
dengan laki-laki yang di idamkannya sejak jaman kelas 2 SMA, Revan Farega. Ega.
Yang kini duduk di samping nya, adalah sesosok laki-laki yang diidamkan Riri
sejak jaman kelas 2 SMA sampai semester 3 ini. Riri tak pernah menyangka bisa
dekat dengan Ega. Hubungan ini berawal saat Riri menolong Ega sewaktu terjatuh
dari motor 3 bulan yang lalu. Ega terserempet mobil, tangan kanan nya luka.
Riri yang sedang membawa mobil, langsung berhenti dan menolong Ega. Dan selama
Ega sakit, Riri dengan telaten membawakan makanan kerumah Ega sebagai bentuk
perhatian nya. Lalu, Ega meminta Riri meninggalkan nomer handphone nya, alasan
nya, jika terjadi apa-apa dengannya, Ega dapat menelepon Riri langsung. Waktu
demi waktu berlalu, Riri dan Ega semakin sering mengirimkan pesan singkat.
Mulai dari iseng nanya lagi ngapain, sampai nanyain udah makan apa belum. Bagi
Riri, ini semua bagaikan mimpi. “Ri, are you okay? Kelihatannya kamu daritadi
melamun” tanya Ega. “I’m okay, biasa lah mikirin tugas kampus” galagasi Riri.
“Haha, malem minggu kamu masih mikirin tugas kampus? Udahlah, ntar aku bantu
ngerjain, tenang aja” jawab Ega sambil tertawa. Pipi Riri pun memerah.
Tak terasa, mobil Ega pun mulai masuk ke parkiran restoran.
“Yuk, kita turun” ajak Ega. Riri hanya mengangguk. Keluar dari mobil, Ega
menghampiri Riri dan kemudian menggandeng tangan Riri untuk masuk ke restoran.
Alunan biola dan piano pun mengalun merdu mengiringi langkah kaki mereka
berdua. Dari pintu masuk, telah nampak, bahwa orang yang masuk restoran
tersebut, hanya mereka yang memiliki kekasih. Sementara itu, Riri dan Ega?
“Silahkan duduk, Riri” Ega mempersilahkan Riri duduk.
“Terima kasih, Ga” jawab Riri singkat.
kemudian Ega segera mengambil posisi duduk di hadapan Riri. “Ngga
nyangka, ya. Aku bisa kesini bareng sama kamu, Ri” kata Ega. “Eengg... aku..
ak.. aku juga nggak nyangka, bisa duduk disini bareng sama kamu” jawab Riri
gugup. “Hey, kamu itu kenapa? Kok jawabnya gitu, udah nyantai aja, yang penting
kita dateng kesini berdua, biarpun diantara kita belum ada status” jawab Ega.
Jawaban Ega hanya membuat Riri terdiam. Belum ada status? Berarti akan ada
kemungkinan untuk ada status? Perasaan Riri makin tidak karuan. Untung Ega
segera memanggil pelayan untuk memesan makanan. “Kamu mau makan apa, Ri?” tanya
Ega. “Aku mau beef lasagna aja, ya. Minumnya orange juice” jawab Riri. “Oke,
kalo gitu, aku juga mau beef lasagna, tapi minumnya air putih aja ya” kata Ega
ke pelayan restoran itu. “Ga, kenapa kamu pesan air putih?” tanya Riri heran. “Aku
ga terlalu suka sama minuman yang manis-manis gitu, apalagi kalo minum nya
sambil liatin kamu” jawab Ega sambil senyum. Dan lagi, pipi Riri kembali
memerah. Riri tak mengerti, mengapa malam ini Ega berkali-kali mengeluarkan
kata-kata gombal dari bibirnya. “Ri, aku musti ngomong sesuatu sama kamu, ini
penting sekali, tapi aku gatau harus mulai ngomong ini darimana, dan aku takut,
kamu akan marah” kata Ega mulai serius. “Kamu mau ngomong apa, Ga? Aku ga akan
marah, tenang saja” jawab Riri. “Gini, Ri. Sebenernya aku tuh...” saat Ega
mulai menjawab pelayan kembali ke meja Riri dan Ega untuk membawakan makanan
pesanan mereka. “Terima kasih, mas” kata Riri pada pelayan. “Kamu mau ngomong
apa tadi, Ga?” Riri berbalik bertanya pada Ega. “Enggak deh, Ri. Kita makan
dulu aja, aku udah mulai laper ini. Hehe. Gapapa kan?” jawab Ega mulai gugup.
“Iya, gapapa” jawab Riri. Riri penasaran akan hal yang akan dibicarakan Ega
kepadanya. Setelah berkata-kata gombal, mengapa Ega tiba-tiba menjadi gugup.
“Pasti ada yang ga beres” batin Riri.
Selesai makan, Ega meraih tangan Riri dan mengatakan.
“Ri, aku sebenernya
naksir sama kamu sejak masuk SMA. Kamu terlihat berbeda dengan yang lain. Kamu
cantik, kamu pintar, kamu sederhana. Aku mulai sayang sama kamu sejak kita
masuk kuliah awal. Aku merasa selama berpacaran dengan mantan-mantan aku, aku
tidak pernah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku merasa, mereka hanya
memanfaatkan aku. Aku ga tau perasaan mu ke aku gimana, Ri. Yang jelas, aku
sayang banget sama kamu, dan aku berniat untuk serius sama kamu. Apa kamu mau
jadi pacar aku? Tapi, jika nanti di tengah jalan kita putus, aku mau kita tetep
temenan kaya gini, aku gamau kamu menjauh. Aku serba salah, Ri.”
Riri pun terkejut dan hanya menjawab.
“Ega, kamu harus tau
perasaan aku, aku sayang sama kamu sejak kelas 2 SMA. Hal itu yang membuat aku
tidak punya pacar sampai saat ini. Tapi, aku butuh waktu untuk memikirkan semua
ini.”
“Baiklah kalo ini yang kamu mau, Ri. Kamu boleh memikirkan
dulu apa jawaban yang akan kamu berikan kepada ku. Tapi tolong, dengan apapun
jawaban mu nanti, aku mohon, jangan timbul rasa sesal diantara kita” jawab Ega.
“Iya, aku janji, tidak akan ada rasa penyesalan sedikitpun” jawab Riri sambil
tersenyum. Setelah percakapan itu terjadi, mereka berdua hanya diam saja.
Mereka hanyut ke dalam alunan biola yang membuat detakan jantung berdegup
normal. Tepat pukul 21.30 Riri mengajak Ega pulang, Riri harus segera
memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Ega. Ega pun meng-iya-kan ajakan
Riri untuk pulang. Segera Ega menuju kasir untuk membayar, lalu menuju ke
parkiran. Di dalam mobil, tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
Sepatah kata pun tidak keluar, baik dari mulut Riri ataupun mulut Ega. Jiwa
mereka menyatu di lagu Tulus-Sepatu yang sedang mengalun pelan di mobil Ega.
Honda Jazz merah itu pun kembali masuk ke dalam perumahan
rumah Riri. Jalanan mulai sepi, penghuni perumahan banyak yang pergi ke Puncak
untuk menghabiskan akhir pekannya. Hingga mobil Ega pun terparkir kembali di
depan pagar rumah Riri. “Makasih ya, Ga. Kamu udah ngajakin aku makan malem
sama ngejemput dan nganterin aku pulang” kata Riri. “Iya, sama-sama, Ri. Kamu
gapapa kan dengan pernyataan ku tadi? Aku takut kamu marah” jawab Ega. “Aku
gapapa, Ga. Yaudah, aku turun dulu. Kamu mau mampir ga?” jawab Riri. “Enggak,
Ri. Ini udah makem, aku pulang aja” jawab Ega sambil tersenyum manis. “Oke kalo
gitu hati-hati di jalan, ya” jawab Riri dari luar mobil. Mobil Ega pun mulai
melaju, Riri melambaikan tangan pada Ega. Segera Riri masuk ke dalam rumah,
mencari kakak nya.
“Kak, dia nembak gua” kata Riri sambil membersihkan make up
di wajahnya. “Hah? Serius lo? Baru pertama kali kencan aja udah ditembak, tiga
kali kencan nikah lo” jawab Silvi menggoda Riri. “Dih, kakak jangan bercanda,
ini gua serius. Gua musti jawab apa?” tanya Riri. “Kalo lo suka sih, tinggal
di-iya-in, kalo lo nggak suka, yaudah tolak aja. Gampang kan?” jawab Silvi
kembali. “Gua sih sebenernya udah naksir sama dia lama, tapi kok gua lebih
nyaman jadi temen ya, kak? Gua takut, satu waktu kalo gua putus sama dia, ntar
diantara kita ada yang canggung untuk berhubungan lagi” jawab Riri. “Yah, itu
mah serah ama lo. Kalo lo ngerasa cocok yaudah pacaran aja, kalo nggak ya
jangan. Rasa takut kehilangan itu bakalan muncul seiring berjalannya waktu.
Coba lo bayangin, kalo lo Cuma temenan sama dia, terus dia nembak cewek lain.
Gimana tu perasaan lo? Sakit kan. Dan pasti dia ga akan sering jalan ama lo lagi”
jawab Silvi dengan tegas. Riri hanya diam, segera dia mengambil handphone nya
dan menuliskan sebuah pesan singkat yang akan ia kirim ke Ega.
Ga, aku juga sayang
sama kamu, sayang banget malah. seperti yang aku bilang tadi. Tapi, kalo kita pacaran, misalnya satu waktu
kita putus, kamu tetep mau kan jalan sama aku? Di antara kita jangan ada yang
canggung, ya. Aku mau jadi pacar kamu..
Hanya selang beberapa menit, handphone Riri langsung
bergetar, di terima nya pesan singkat dari Ega.
Aku janji, Ri. Aku ga
akan ninggalin perempuan sebaik kamu. Aku janji aku bakal jagain kamu. Jika
kita memang tidak berjodoh nantinya, aku janji kita akan masih tetap
bersahabat. Aku janji, sayang..
Riri terkejut mendapati balasan dari Ega. Betapa senangnya
penantian dia 4 tahun ini tidak sia-sia. Laki-laki yang hanya ia bayangkan di
dalam mimpi nya dan dunia khayal nya, yang selalu ia jadikan pangeran, kini
menjadi kenyataan. Rasanya malam ini, masih seperti mimpi. “Ya Tuhan, semoga
malam ini, bukan hanya mimpi indahku. Semoga laki-laki ini akan menemani ku
menjalani hidup, bukan lagi menemani ku di mimpi” doa Riri saat akan tidur.
Saat akan tidur, tak lupa Riri mengerimkan pesan singkat kembali ke Ega.
Selamat tidur, sayang.
Mimpi indah.
Pesan tersebut mendapat balasan dalam hitungan detik.
Selamat tidur juga,
bidadari ku. Sampai jumpa di mimpi.
Riri hanya tersenyum, lalu senyum itu ia bawa sembari
memejamkan mata.
Selamat malam, selamat tidur semua. – titarahanip.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar