Secangkir kopi menemani pagi ku kali itu diiringi dengan alunan lagu dari Afgan. Pagi yang indah!
Hampir lupa aku untuk mengecek bbm yang masuk, setelah aku lihat, ga ada yang dari kamu. Aih, lupa, kamu ga punya bbm, aku pun berpindah ke e-mail, ga ada juga yang dari kamu. Udah tiga hari ini aku nungguin pesan singkat dari kamu, tapi kamu-nya ga kabarin aku. Aku mau nyetatus di twitter, entar dikatain alay. Yaudah aku simpen kangen ku ini sendiri dulu.
Hari makin siang, matahari pun makin meninggi, sambil aku menulis cerita ini, aku selalu cek e-mail ku, dan hasilnya masih nol. Hatiku masih bertanya, ini apa ya? Buat kasih kabar aja susah nya minta ampun. Jauh nya jarak apa juga membuat komunikasi tersendat. Oke, aku rasa aku aja yang alay, yang mendramatisir semua ini. Aku harap, kamu punya kesibukan disana, tapi bukan kesibukan bermain dengan wanita lain.
Hari ke hari, Minggu ke Minggu, tibalah ke tanggal yang aku tunggu. Tiket pesawat penerbangan Jogja-Jakarta sudah ada di tanganku. Rasanya, aku tak sabar menuju ke ibukota Indonesia lalu menaiki kereta ke ibukota Jawa Barat, yak, Bandung. Satu kota, dimana bertebaran lelaki bertampang elegan dan ganteng, serta wanita yang berkulit resik dan manis. Pukul 11.45 tibalah aku di Jakarta, dengan cepat, aku menyeret koperku dan menuju taksi untuk perjalanan ke stasiun. Jalanan Jakarta masih macet seperti biasanya, suara bising pun tak dapat dihindari, aku rasa aku akan terlambat sampai di Bandung.
Semua perkiraan ku salah semua, jalan yang aku lalui tidak terlalu macet. Aku sampai tepat di Bandung pukul 14.10. Stasiun Bandung Kota hari itu terlihat agak sepi, tidak seperti biasanya. Lalu lalang turis pun tidak terlalu banyak. Aku mencari angkutan umum untuk menuju ke daerah Parongpong, kebetulan aku ada teman di daerah sana, mungkin dia bisa menunjukkan hotel yang bisa aku tempati selama tinggal di Bandung.
'Halo, Na. Aku udah ada di depan kost-an mu. Kamu dimana?', tanya ku di telepon. 'Kamu di Bandung ga bilang-bilang aku?!', sambung Ina. Ya, Ina merupakan salah satu sahabat terbaik ku, dia yang paling tau isi hatiku. Biarpun kita jauh, tapi kita selalu berkomunikasi rutin, dan mendiskusikan segala hal. 'Hih, bukain dulu pintu kost-an! Aku capek. Habis ini pokoknya temenin cari hotel'. Tak lama kemudian, pintu kost-an Ina terbuka. 'Welcome Bandung! Tumben kesini ga bilang-bilang', tanya Ina. 'Iya, aku emang mau sengaja kasih kejutan buat kamu', jawabku singkat. 'Kejutan? Buat aku atau buat Nicky? Haha', jawab Ina. Aku hampir lupa, iya Nicky, dia seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bandung yang sekarang menjadi pacarku. 'Yah, dua-dua nya boleh. Tapi, kenapa ya akhir-akhir ini aku hubungin Nicky susah banget? Aku cek twitter, fb, path, semuanya lama ga aktif. Dia kemana ya, Na?', tanya ku sedih. 'Udahlah, dia kan aktivis gaul di Bandung, jadi kamu harap maklum kalo dia sulit dihungin', jawaban Ina sedikit menghilangkan rasa resahku. Dalam hati, aku harap juga begitu, semoga Nicky baik-baik aja. 'Kamu istirahat dulu ya, kamu keliatan capek, tidur disini aja', kata Ina. 'Gausah Na, aku gamau ngerepotin kamu', jawabku. 'Ngga akan ngerepotin kok, lagipula dengan tinggal disini, kamu bisa menghemat biaya sayang', jawab Ina. 'Oke, kalo kamu memaksa, aku akan disini. Haha', jawabku sambil melemparkan badan ke kasur. Tanpa tersadar oleh waktu, aku tertidur selama beberapa jam.
Seperti malam-malam biasanya kalo di Bandung, jam 8 malam kali ini aku manfaatkan untuk berjalan-jalan di Ciwalk bersama Ina. Tak lupa agenda rutin ku tiap di Bandung untuk mampir ke salah satu toko roti yang menyediakan macaroons. Tiba-tiba handphone di dalam tas ku berbunyi. Aku pun hanya diam, terpaku menatap layar handphone. 'Woi, siapa yang telepon lo?', tanya Ina membuyarkan lamunanku. 'Nicky, Na. Aku angkat ga ya', jawabku. 'Udeh, lo angkat aja. Lo kan lama ga komunikasi sama dia', jawab Ina sambil menguyah macaroons di hadapan nya. 'Ha... Halo', kata ku. 'Halo, sayang. Maafkan aku, sebulan terakhir aku tidak menghubungi mu, aku harus mengikuti KKN di Kalimantan, dan disana jarang mendapat sinyal', kata Nicky. 'Oh, oke. Gapapa. Kamu dimana sekarang?', tanya ku. 'Aku lagi di daerah Cibaduyut, aku mau tebak dulu, pasti kamu lagi duduk-duduk di kafe kopi daerah Laweyan kan?', jawab Nicky. 'Leuu! Sotoi! Aku lagi di Ciwalk bareng Ina, temui aku besok di Cipaganti jam 9 pagi', jawab ku ketus sembari menutup telepon. 'Duileee, galak amat Neng sama cowoknya, ntar diambil orang, nyesel lho', goda Ina. 'Dih, siapa yang mau ngambil Nicky dari gue. Udah kita makan, terus balik ya abis ini. Gue masih ngantuk', jawab ku pada Ina yang tetap menaruh perhatian pada macaroons nya.
Oh Tuhaaan, tolong aku sampaikan, pesan ini padanya. Agar dia tau bahwa kini aku jatuh cinta.
Suara alarm hp ku pun berbunyi, Afgan pun bernyanyi di telepon genggam ku, waktu masih menunjukkan pukul 07.00 tapi aku sudah siap untuk mandi. Ina pun sudah berangkat ke kantor sejak jam enam tadi. Dia hanya meninggalkan mobil dan sarapan untuk ku. Dan, pagi Bandung! Selesai mandi dan berdandan pun, aku bersiap-siap untuk bertemu Nicky. Kita udah lama ga ketemu, aku harap pertemuan kita kali ini tidak memiliki kesan yang buruk. Mobil ku pun mengarah ke daerah Cipaganti, satu daerah yang sudah kondang di Bandung. Bzzzzz... bzzzzz... Ada pesan singkat masuk ke handphone.
Nicky : Aku udah stay di depan kafe biasa, kamu dimana? Aku harap kita secepatnya bertemu.
Hati ku pun makin ga karuan membaca pesan singkat itu, tiap kali mau bertemu Nicky, entah kenapa jantung ini rasanya mau copot. Biarpun sudah berkali-kali bertemu dan dia pacar aku sendiri, selalu ada rasa yang tak biasa di dalam hati ini. Sampailah mobil yang aku bawa di parkiran depan kafe. Aku segera keluar dari mobil dan masuk kafe. Daann...... Aku menemukan sosok laki-laki berparas putih, berhidung mancung, berkacamata sedang memaninkan jari jemarinya di atas meja kafe. Well, dia Nicky! 'Hai, sudah lama menunggu? Maafkan aku membuat mu menunggu terlalu lama', kata ku mengawali percakapan dengan Nicky. 'Belum lama, tak selama saat kamu menunggu kabar dari ku', jawab Nicky. Nicky merupakan sosok laki-laki yang mendekati sempurna, usia nya masih 24 tahun, terpaut dua tahun lebih tua di atas usia ku. Namun, dia merupakan sosok yang dewasa, semua karakter lelaki idaman ku ada pada dirinya. 'Woi, ada di Bandung sejak kapan?', tanya Nicky membuyarkan lamunan ku. 'Sejak kemarin sore. Aku sudah menunggu mu lama selama satu bulan, aku terpaku di depan layar laptop. Di tiap malam, aku selalu berdoa, agar kamu menghubungi ku, tapi nyata nya tidak, dan itu semua alasan mengapa aku bisa ada di hadapan mu saat ini', jawab ku. 'Lama nggak berkomunikasi sama aku, ilmu sajak mu sudah sepintar ini? Haha', goda Nicky. 'Itu cuma perasaan mu aja, kamu aja yang ga pernah peka kalo aku selalu berbahasa untuk mu', jawab ku kembali. 'Yaudah, kita makan dulu aja, udah lama kita ga makan bareng kaya gini, udah lama juga ga ngobrol bareng kamu. Apa kamu tau Rindu-ku ke kamu saat aku di Kalimantan? Yang bisa aku lakukan, cuma liat foto kamu di dalam dompet aku aja, sebenarnya, itu semua kurang. Tapi, aku bisa apa', kata Nicky. 'Dan, apa kamu tau, apa yang aku bisa lakukan saat berkomunikasi denganmu? Rindu itu sudah menumpuk, berkumpul menjadi satu, rindu itu akan meledak, namun tidak bisa. Pawang rindu-ku tak kunjung datang, dan baru di siang ini aku bertemu pawang rindu-ku itu. Kamu', jawab ku.
Semua kalimat yang aku lontarkan ke Nicky tak hanya aku ucapkan begitu saja, mata ku tampak berkaca-kaca. Akhirnya, penantian ku satu bulan ini tidak sia-sia. Karena semua rindu itu akan bermuara pada tempatnya, dan semua cinta itu akan kembali ke cinta masing-masing yang telah dipilihkan oleh-Nya. Jadi, semua akan mendapatkan itu semua, tapi, untuk mendapatkannya, dibutuhkan usaha yang keras dan waktu penantian yang tidak singkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar